Dukungan Guru Besar Unsoed untuk Penggabungan Bulog dan Bapanas

“Kolaborasi lembaga adalah kunci untuk mencapai ketahanan pangan yang lebih baik.”

Dukungan Penggabungan Bulog dan Bapanas oleh Prof. Totok Agung Dwi Haryanto

Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, seorang pakar pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, memberikan dukungan kuat terhadap rencana penggabungan Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Menurutnya, langkah ini akan meningkatkan efisiensi dan memperkuat tata kelola pangan di Indonesia. “Kalau penggabungan ini dilakukan untuk efisiensi kelembagaan agar tidak tumpang tindih fungsi, itu langkah yang sangat tepat,” ungkapnya.

Peran Ganda Bulog dalam Pangan Nasional

Selama ini, Bulog berperan ganda sebagai lembaga pelayanan publik dan juga menjalankan fungsi komersial. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga sosial, Bulog bertanggung jawab terhadap stabilisasi harga, pengelolaan cadangan beras pemerintah, serta distribusi bantuan sosial. Namun, peran komersial yang dijalankannya sering kali bertentangan dengan misi sosial tersebut.

Prof. Totok juga menyoroti bahwa fungsi sosial Bulog mirip dengan tugas yang diemban oleh Bapanas, yang fokus pada keragaman konsumsi pangan, pengendalian kerawanan pangan, dan isu gizi. Oleh karena itu, ia mendukung penggabungan kedua lembaga ini, terutama dalam aspek pelayanan publik.

Pembagian Tugas yang Efisien

Menurutnya, untuk fungsi komersial yang selama ini dijalankan Bulog, lebih baik diserahkan kepada BUMN lain yang bergerak di bidang pangan. Hal ini akan membuat sistem pangan nasional lebih efisien dan responsif. Prof. Totok juga menekankan pentingnya penggabungan ini tidak diwujudkan dalam bentuk kementerian baru, melainkan sebagai lembaga setingkat menteri untuk mempermudah koordinasi lintas sektor.

Dengan penggabungan ini, diharapkan perencanaan cadangan pangan nasional dapat diperkuat, serta pemerintah dapat lebih cepat merespons gejolak harga dan ancaman krisis pangan. Prof. Totok menegaskan, “Yang penting, fungsi Bulog sebagai penjaga ketahanan pangan tetap dipertahankan dalam sistem baru yang lebih efisien dan terintegrasi.”

Sejarah dan Perkembangan Bulog

Bulog, yang didirikan pada 10 Mei 1967, awalnya bertugas untuk menggantikan Komando Logistik Nasional. Sejak saat itu, Bulog telah mengalami berbagai perubahan fungsi dan status, termasuk pengalihan tanggung jawab langsung kepada Presiden RI pada tahun 2001. Perubahan ini menunjukkan pentingnya peran Bulog dalam pengelolaan pangan nasional.

Implikasi Penggabungan terhadap Kebijakan Pangan

Penggabungan Bulog dan Bapanas tidak hanya akan meningkatkan efisiensi tetapi juga mempercepat implementasi kebijakan pangan nasional. Ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa semua aspek pengelolaan pangan, mulai dari produksi hingga distribusi, dapat terintegrasi dengan baik. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Lihat selengkapnya dari referensi dan sumber asli: News Jateng

Sumber gambar: Media Source
Referensi:

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x