Sumanto Soroti Potensi Kredit Macet di BKK
“Kredit macet adalah cermin tantangan dan tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan.”
Sumanto Soroti Risiko Kredit Macet di BKK
Ketua DPRD Jateng, Sumanto, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya terhadap potensi kredit macet dan kredit fiktif yang melanda beberapa lembaga perbankan daerah dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemprov. Dalam sebuah talkshow yang membahas optimalisasi sistem manajemen anti penyuapan, ia menjelaskan bahwa masalah ini terjadi akibat kejar target dan kurangnya pengawasan yang ketat.
Rawan Kredit Macet di BPR dan BKK
Sumanto menekankan bahwa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Badan Kredit Kecamatan (BKK) merupakan lembaga yang sangat rentan mengalami kredit macet. Kedua lembaga ini sering dijadikan pilihan terakhir oleh debitur setelah pengajuan di bank-bank besar ditolak. “BKK ini sudah level tiga, jadi harus lebih hati-hati karena krediturnya memiliki risiko lebih tinggi,” ungkapnya.
Faktor Penyebab Kredit Macet
Menurut Sumanto, tren kredit macet sering kali disebabkan oleh tekanan untuk memenuhi target pinjaman, terutama di akhir tahun. Ketika lembaga perbankan berusaha mengejar angka, seringkali pengawasan terhadap pengajuan kredit menjadi longgar, sehingga syarat-syaratnya pun dilonggarkan.
Dia juga mendorong BKK untuk meningkatkan kualitas dan pengawasan agar tidak menjadi pilihan terakhir dalam pengajuan kredit. “Kualitas perbankan harus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan bank-bank yang lebih besar,” tambahnya.
Kasus Kredit Macet di Jateng
Salah satu contoh nyata dari masalah ini adalah kasus kredit macet yang terjadi di BKK Pringsurat, Kabupaten Temanggung, dengan nilai mencapai Rp37 miliar. Menurut Kasubdit 3 Tipidkor Polda Jateng, AKBP Heru Antariksa Cahya, banyak laporan terkait penyalahgunaan dalam pengajuan kredit, termasuk praktik kredit fiktif dan modus gali lubang tutup lubang.
Heru juga mengingatkan pengelola BPR dan BKK untuk benar-benar menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengajuan kredit, agar bisa terhindar dari tindak pidana korupsi. Dengan penerapan mekanisme yang baik, diharapkan lembaga perbankan dapat menghindari risiko kredit macet yang merugikan.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi lembaga perbankan untuk menerapkan teknologi dalam sistem manajemen dan pengawasan kredit. Penggunaan software analitik dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal dan mencegah terjadinya kredit macet.
Selain itu, edukasi kepada para calon debitur tentang pengelolaan keuangan yang baik juga sangat diperlukan. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan mereka dapat mengajukan kredit dengan lebih bijak dan meminimalkan risiko gagal bayar.
Terakhir, kolaborasi antar lembaga perbankan dan pemerintah daerah perlu ditingkatkan untuk menciptakan sistem perbankan yang lebih transparan dan akuntabel, sehingga potensi kredit macet dapat diminimalisir.

- Sumanto Soroti Potensi Kredit Macet di BKK – Sumber Berita (09 Dec 2025, 23:05)
